Kulinerwisata

Benteng Vredeburg Yogyakarta

Sumber Wikipedia

Menurut Wikipedia : Museum Beteng Vredeburg adalah sebuah benteng yang terletak di depan Gedung Agung dan Kraton Kesultanan Yogyakarta. Sekarang, benteng ini menjadi sebuah museum. Di sejumlah bangunan di dalam benteng ini terdapat diorama mengenai sejarah Indonesia.

Letak Benteng Vredeburg Yogyakarta di kawasan nol kilometer pusat Kota Yogyakarta menjadikan sebuah daya tarik bagi para wisatawan. Benteng ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan kuno peninggalan jaman Belanda seperti Gedung Agung (bekas rumah residen), gereja Ngejaman (GPIB Margamulya), bekas Senisono (menyatu dengan Gedung Agung), kantor BNI 1946, kantor Pos, kantor Bank Indonesia dan Societeit Militaire. Benteng Vredeburg menjadi tujuan wisata budaya yang unik dan khas di Yogyakarta.


Dalam pelayanannya kepada masyarakat, museum Benteng Vredeburg tidak lepas dari unsur-unsur pendidikan karena pada dasarnya museum memiliki dua fungsi yaitu sebagai rekreasi sekaligus tempat pendidikan. Informasi tentang kesejarahan, kebudayaan dan nilai-nilai luhur kejuangan disampaikan kepada generasi muda dalam nuansa edutainment, yang berasal dari kata education dan entertainment.


Demikianlah, Benteng Vredeburg yang sekarang menjadi Museum Benteng Vredeburg  Yogyakarta telah melekat dengan Kota Yogyakarta. Latar belakang sejarah Kota Yogyakarta baik sebagai ibukota Kasultanan Yogyakarta dan ibukota NKRI tidak dapat dipisahkan dengan sejarah Benteng Vredeburg Yogyakarta. Pelestarian Benteng Vredeburg sebagai museum bukan berarti pengagungan simbol kejayaan kolonial. Akan tetapi tujuannya untuk mendapatkan fungsi baru yang dapat memberikan informasi dan aspirasi perjuangan nasional bagi generasi mendatang.

Secara historis, sejak awal pembangunan hingga saat ini, terjadi beberapa kali perubahan status kepemilikan dan fungsi benteng, yang antara lain:

  1. Tahun 1760-1765, pada awal pembangunannya status tanah tetap atas nama milik Keraton, tetapi penggunaannya di bawah pengawasan Nicolaas Harting, Gubernur Direktur wilayah Patai Utara Jawa.
  2. Tahun 1765-1788, status tanah secara formal tetap milik Keraton, tetapi penguasaan benteng dan tanahnya dipegang oleh Belanda di bawah Gubernur W.H. Ossenberg.
  3. Tahun 1788-1799, status tanah tetap milik Keraton, kemudian pada masa ini, benteng digunakan secara sempurna oleh VOC.
  4. Taghun 1799-1807, status tanah secara formal tetap milik Keraton, dan penggunaan benteng secara de facto menjadi milik pemerintah Belanda di bawah pemerintahan Gubernur Van De Burg.
  5. Tahun 1807-1811, secara formal tanah tetap milik Keraton, dan penggunaan benteng secara de facto menjadi milik pemerintah Belanda di bawah pemerintahan Gubernur Daendels.
  6. Tahun 1811-1816, secara yuridis benteng tetap milik Keraton, kemudian secara de facto benteng dikuasai oleh pemerintahan Inggris di bawah pimpinan Jenderal Raffles.
  7. Tahun 1816-1942, sattus tanah tetap berada pada kepemilikan Keraton, dan secara de facto dipegang oleh pihak Belanda, sampai menyerahnya Belanda di tangan Jepang dan benteng ini mulai dikuasai penuh oleh pihak Jepang, yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian Kalijati di Jawa Barat, Maret 1942.
  8. Tahun 1942-1945, satus tanah tetap milik Keraton, tetapi secara de facto penguasaan berada di tangan Jepang sebagai markas Kempetei atau polisi jepang, gudang mesiu, dan rumah tahanan bagi orang-orang Belanda dan Indo-Belanda serta kaum politisi RI yang menentang Jepang.
  9. Tahun 1945-1977, status tanah tetap milik Keraton, setelah proklamasi kemerdekaan RI pada tahun 1945, benteng diambil alih oleh instansi militer RI. Dilanjutkan dengan diambil alih kembali oleh pihak Belanda tahun 1948 karena adanya peristiwa Agresi Militer Belanda II, dan akhirnya direbut kembali oleh Indonesia setelah adanya peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 dan pengelolaan benteng ditangani oleh APRI (Angkatan perang Republik Indonesia).
  10. Tahun 1977-1992, dalam periode ini, satus pengelolaan benteng diserahkan kembali pada pemerintahan Yogyakarta oleh pihak Hankam, dan pada tanggal 9 Agustus 1980 diadakan perjanjian tentang pemanfaatan bangunan bekas benteng Vredeburg antara Sri Sultan HB IX dengan Mendikbud DR. Daud Jusuf. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan dari Mendikbud Prof. Dr. Nugroho Notosusanto tanggal 5 November 1984 bahwa bekas benteng Vredeburg ini akan difungsikan sebagai sebuah museum. Tahun 1985, Sri Sultan HB IX mengijinkan diadakannya perubahan bangunan sesuai dengan kebutuhannya, dan tahun 1987, museum benteng Vredeburg baru dibuka untuk umum. Mengenai status tanah pada periode ini tetap milik Keraton.
  11. Tahun 1992 sampai sekarang, berdasarkam SK Mendikbud RI Prof. Dr. Fuad Hasan No. 0475/0/1992 tanggal 23 November 1992, secara resmi Museum Bneteng Vredeburg menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional dengan nama Museum Benteng Vredeburg Yoyakarta yang menempati tanah seluas 46.574 m persegi. Kemudian tanggal 5 September 1997, dalam rangka peningkatan fungsionalisasi museum, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mendapat limpahan untuk mengelola museum Perjuangan Yogyakarta di Brontokusuman Yogyakarta berdasarkan SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: KM. 48/OT. 001/MKP/2003 tanggal 5 Desember 2003.

Sebelum lebih jauh saya mengenalkan apa itu Benteng Vredeburg, jika anda sempat untuk berlibur ke Jogja dan mengunjungi tempat ini salah satu yang penting untuk dibawa yaitu Kamera dan catatan. Catatan berfungsi untuk mencatat segala informasi baru yang perlu untuk si kecil, agar pengetahuan mereka bertambah. Kamera digunakan untuk mengabadikan moment berharga bersama orang terdekat agar suatu saat dapat menjadi kenangan indah untuk anak cucu di masa yang akan datang.

Pada setiap bangunan di dalam lokasi Benteng Vredeburg tertempel keterangan fungsi bangunan tersebut sebelumnya, seperti gudang mesiu, gudang senjata berat, perumahan perwira, gedung pengapit, dan pintu gerbang. Gedung apit yang dulunya merupakan kantor administrasi kompleks Benteng Vredeburg, dan banguanan ini merupakan bentuk aslinya dengan segala ornamen gaya Yunani masa Renaisans, yang menunjukkan usianya lebih tua dibandingkan bangunan lainnya.


Kita bisa berkeliling di atas dinding Benteng Vredeburg. Dengan memperhatikan dinding ruang pengintaian yang bopeng bekas peluru tembakan. dan dari atas Benteng Vredeburg kita bisa melepas pemandangan sekeliling kita untuk melihat pemandangan.

Bila kita lelah berkeliling Benteng Vredeburg maka kita bisa beristirahat di sekeliling Benteng Vredeburg yang ditanami pohon rimbun di atas Benteng Vredeburg sambil melihat lalu lintas Kota Yogyakarta dan keindahan gedung-gedung tua di perempatan jalan ahmad Yani, Yogyakarta.

Museum yang ada di Benteng Vredeburg menyajikan diorama yang menceritakan tentang sejarah Indonesia. Selain itu, terdapat banyak lukisan dan gambar serta benda-benda peninggalan bersejarah pada jaman penjajahan Belanda. Kalau anda mau berkeliling benteng maka anda dapat menyewa sepeda Onthel dengan harga sangat terjangkau yaitu membayar 5.000 rupiah saja.

Benteng Vredeburg
Waktu Kunjungan : Selasa – Minggu
LIBUR : SENIN
Buka :08.00 – 16.00
Harga Tiket : Pengunjung Perorangan Dewasa: Rp. 2.000,- Anak-anak: Rp. 1.000,-
Alamat : Jl. Jend. A. Yani no 6 Jogjakarta

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Benteng Vredeburg Yogyakarta"

  1. boleh juga nih, kalo mampir ke jogja mampir juga ketempat ini,

    ReplyDelete
  2. Wisata + belajar sejarah ya gan :D

    ReplyDelete