Kulinerwisata

Kuliner : Gudeg Pawon

Gudeg Jogja? Tentu sudah tak asing lagi. Makanan khas ini banyak sekali dan mudah ditemukan di setiap sudut kota Jogja. Makanan ini memang cocok disantap di segala suasana, mulai dari menu sarapan, makan siang, makan malam, hingga dini hari.

Penjual menu ini juga sangat banyak dan tersebar di seluruh penjuru Jogja. Mulai dari penjual kaki lima yang buka di pagi hari untuk menyuplai kebutuhan sarapan warga Jogja, menu high-level yang terkenal semacam Gudeg Wijilan dan Gudeg Barek, hingga warung lesehan di emperan toko yang tutup di malam dan dini hari.

Dari sekian banyak gudeg yang ada di Jogja, ternyata beberapa di antaranya memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Salah satunya adalah gudeg pawon. Kali ini, kita akan mencicipi gudeg yang sangat terkenal dan legendaris tersebut.

Keunikan dari gudeg ini sebenernya bukan terletak pada menunya, bahkan boleh dibilang rasa gudeg beraliran putih ini ndak ada yang istimewa bila dibandingkan dengan gudeg-gudeg sejenis. Akan tetapi letak keunikannya adalah tempat dijualnya gudeg ini, yaitu di pawon atau dapur.

Tempat berjualan gudeg ini tidak seperti warung-warung pada umumnya. Karena memang tempat berjualannya di pawon alias dapur, maka kita harus jeli untuk menemukan tempat ini. Tetapi hal ini tidaklah sulit, karena tempat ini mudah dikenali, yaitu banyaknya kendaraan yang diparkir di depannya, mulai dari sepeda motor hingga mobil-mobil.

Lokasi gudeg ini berada pada Jalan Janturan, Glagah, Yogyakarta. Dari Jalan Kusumanegara, pada pertigaan di depan Toserba Pamela, belok ke selatan. Setelah melewati kampus UTY dan Ahmad Dahlan, maka Anda akan menemukan rumah yang di depannya banyak diparkir kendaraan, di situlah Gudeg Pawon berada.

Nuansa klasik langsung terasa ketika memasuki dapur yang berdiri sejak tahun 1958 ini. Dari pintu masuk, di sebelah kiri dapat kita lihat tungku berbahan bakar kayu yang masih digunakan untuk memasak gudeg ini. Di sebelah kanan dapat kita temui kursi-kursi jika kita ingin makan sambil menikmati nuansa klasik yang tercipta.

Menengok ke atas, akan ditemui atap tanpa asbes yang berwarna hitam karena banyaknya jelaga yang menempel di atas langit-langit. Kesan dapur semakin kental ketika kita mendapati bumbu-bumbu dapur yang sengaja diletakkan di sudut ruangan.

Bagi yang merasa pengap bila berada di dalam dapur, bisa keluar dan duduk di kursi yang disediakan di luar. Akan tetapi, nuansa klasik yang dirasakan tidak sedahsyat bila berada di dalam dapur.

Gudeg Pawon merupakan salah satu makanan khas dini hari, karena warung ini buka setiap hari pada pukul 23.30 hingga pukul 5 pagi. Tetapi biasanya sebelum pukul 5, gudeg ini sudah habis. Sehingga, bagi Anda yang kelaparan pada tengah malam atau dini hari, gudeg ini patut dicoba.

Konon, dulu penjual gudeg ini merupakan penjual gudeg keliling. Karena gudeg yang dijual sangat lezat, banyak orang yang tak sabar untuk menanti si penjual gudeg ini lewat, sehingga mereka kemudian sering datang ke dapur si penjual gudeg untuk membeli gudeg tersebut secara langsung. Kebiasaan inilah yang kemudian mengilhami Gudeg Pawon.

Hingga kini gudeg ini masih terkenal, walau rasa dari gudeg ini menurut kami biasa saja. Kemungkinan pembuat gudeg yang sekarang adalah keturunan dari ibu penjual gudeg perintis gudeg pawon ini, sehingga kelezatan gudeg pawon yang sekarang tidak sedahsyat gudeg pawon jaman dahulu.

Harga gudeg ini juga cukup murah, kami memesan gudeg dengan telur, harganya hanya 4.000 rupiah per porsi. Tetapi nuansa klasik yang diperoleh ketika menyantap gudeg ini merupakan nilai lebih dari gudeg ini.
Sumber : http://cahandong.org/2006/12/01/nuansa-klasik-gudeg-pawon.html

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kuliner : Gudeg Pawon"

Post a Comment