Kulinerwisata

Over Protective Orang Tua Anak Tunggal di Bangku Sekolah

Wah postingan kami tentang anak tunggal bulan mei mundur, maaf ya teman-teman. PR dan kegiatan kami bikin gak sempat untuk posting, tapi kami tetep konsisten lho untuk semangat nulis meski sambil menangis darah hahaha.

Tema kali ini adalah kisah Masa Sekolah Rian. Sekolah apalagi saat SD itu seperti biasa anak-anak pada umumnya, sekolah dipilihkan orang tua dengan berbagai pertimbangan yang jelas sesuai dengan anaknya. Tapi dalam keseharian saya cukup berbeda dengan teman-teman, Bapak yang memiliki latar belakang seorang guru menambah proses ini berbeda. Jarak rumah ke sekolah hanya 10 menit menggunakan motor, tapi dari saya TK wajib berangkat pukul 06.00 dari rumah. Waktu itu tetep dijalani donk meski muka cemberut (gak tiap saat sich), tidur malam atau capek tetep gak ngaruh jam 6 pagi sudah cuzz dari rumah.

Bapak dan mama sosok yang santai, saking santainya sering mereka mengantar aku sekolah hanya menggunakan celana pendek ditutup jaket. Mama tidak seperti mama kebanyakan yang memilih di sekolah ngrumpi, mama lebih milih langsung pulang dan melangsanakan kegiatan rumah tangga. Balik ke sekolah, dari SD pola belajar saya pun variasi karena saya yang setting sendiri bahkan saat SD saya lebih banyak belajar sendiri. Kesulitan saat belajar pun sering dihadapi, tapi tanya orang tua jalannya mereka tetap care dengan pertanyaan saya. Kadang saya iri dengan teman-teman yang mereka dibantu oleh orang tuanya mengerjakan PR apalagi yang bagi saya sulit yaitu prakarya (efek gak punya rasa seni), tapi tetap saja bapak mama hanya menemani dan melihat kalau sulit sekali baru membantu.

Kegiatan keluar sekolah pun sangat ketat saat SD, semua harus pasti dan yakin karena saya anak tunggal kayaknya (disini GR). Tapi saat seperti ini membuat kadang saya BT, ngrasa mereka over dengan saya. Saya yang senang bersosialisasi, main dan pergi-pergi dari kecil terasa terkekang dengan segala syarat karena ornag tua intinya belum pasti. Kegiatan yang memang sudah diberikan oleh sekolah pasti di dukung sich. 

SMP menjelang, disini saya mlai boleh memilih sekolah mana yang saya mau. AKhirnya pilihan tertuju di SMP Immaculata Gondomanan, disini saat pagi tetap donk berangkat jam 06.00 dair rumah. Tapi saat pulang sekolah biasa tidak ekskul saya harus naik bis, tapi ada catatan kalau hujan boleh lah dijemput. Kantor bapak kebetulan dekat dengan sekolah (10 menit), jadi saya kalau malas naik bis telp minta jemput dengan 1001 alasan (hihi). SMP pun saya tetap senang dengan aneka kegiatan luar rumah, ekskul pramuka utama. Di SMP saya sampai bisa jadi Dewan Pembina, jadi contoh adik-adik tapi tetep aja bapak ada kemana-mana. Sebagai Pembina saya sering melakukan banyak aktivitas di luar sekolah, kadang Bapak bertanya siapa yang berwenang dll. Ini membuat saya risih, tak hanya itu saat sudah boleh berangkat kemah mereka kadang datang. Bapak datang alasan tidak mau menemui saya dengan bawa makanan untuk dewan ranting, tapi tetep ya disitu cari-cari saya dari jauh aman gak dll. Sebel banget tapi juga lucu hahaha.

SMA saya lebih longgar karena sudah dianggap "agak" dewasa (agak lho ya). Di SMA saya 2 th menjadi Pengurus OSIS, disini saya lebih belajar lagi mengenai kepribadian dewasa. Eh tapi tetep ya jam 06.00 saya sudah cabut dari rumah, bedanya SMA saya langsung naik motor sendiri (amanlah). Saya harus benar-benar pintar memilih dan menjaga jadwal saya supaya tidak terpengaruh dengan nilai di sekolah. Pengalaman SMA mengesan saat saya menjadi Pengurus OSIS, kami harus selama 3 hari di AU Adisutjipto untuk bertemu taruna disana. Disana ternyata tak hanya AU ada juga Akmil, AL dan Akpol, acara ini adalah acara tahunan. Malam keakraban pun kami sebelumnya diajarkan cara duduk, berjalan halahh ala pejabat lah. Ini sangat sulit karena kalian taulah saya bukan wanita yang 100% feminim. Malam keakraban pun tiba, semua wanita wajib menggunakan rok dan high heels (wah berat oy). Di tambah malam itu kami masing-masing harus berdansa dengan para taruna, ah semua dansa awur karena mereka menyadari kami tidak bisa berdansa. Bayangkan Rian DANSA! OMG! 

Masa sekolah sayang yang lucu ini membuat kisah hidup saya semakin berwarna. Orang tua yang over protective membuat saya selalu waspada untuk bertanggung jawab dengan apa yang saya lakukan. Ada hal yang sampai saat ini saya pegang adalah Ontime dan tanggung jawab. Kini orang tua malah 100% percaya pada saya dengan segala history yang ada, pulang jam 12 malam gak masalah asal sms/wa tetep lancar (bisa dihubungi).

Jadilah dirimu dan tanggung jawab atas segala hal!

Subscribe to receive free email updates:

9 Responses to "Over Protective Orang Tua Anak Tunggal di Bangku Sekolah"

  1. Kisah yang mengharukan mbak. Sangat berwarna, itulah kehidupan.... :)

    ReplyDelete
  2. Wah pagi bener mbak jam 6 udah berangkat sekolah tiap hari :)

    ReplyDelete
  3. Over protective tp bisa jadi mandiri bgt yaa..hihi..

    ReplyDelete
  4. Menumbuhkan rasa tanggung jawab ini biasanya ga mudah. Kalau dengan cara over protective bisa ditumbuhkan, boleh juga dicoba :D

    ReplyDelete
  5. Begitu ya anak tunggal? Xixixi. Biasanya mah banyak yang makin manja ma ortu. Ternyata Mbak gak lho.

    ReplyDelete
  6. Aku, meski punya adek, ortu juga over protektif, ya tapi masih ada sisi manjainnya juga sih, tapi kebanyakan dilarang dan sering ggboleh main..m

    ReplyDelete
  7. reques dong sesuk acarane asus pake high heel yo mbak :D

    ReplyDelete
  8. Saat jadi ortu saya baru tau kenapa ortu saya dulu rada ketat juga, ternyata itu tanda mereka takut kehilangan.

    Soalnya saya sekarang gitu juga ke anak. :D

    ReplyDelete
  9. Kok sama sih kitaa. Bapak ibuku juga over protective sampai sekarang. Yah, agak longgar sih dikit. Hihihi

    ReplyDelete