Tuesday

Tak Mudah Jadi Seorang Reporter

Dewi Ratnasari in action
Kehidupan seorang reporter bagi saya yang awam dunia reporter berpikir enak, cantik duduk santai. Tapi setelah usia dewasa saya mulai berpikir jadi reporter gak semudah perkiraan saya, dia harus tetap tersenyum meski posisi lelah. Apalagi cuaca gak mendukung pasti gak enak banget. Saya yang seneng main-main liburan kemana gitu, kalau cuaca panas dan gak bersahabat pasti akan pengaruh di mood mereka.

Perlahan ingin mencoba mempelajari kesulitan seorang reporter TV, apalagi yang harus live. Pasti gak gampang banget. Analisa saya sulitnya menjadi reporter :

1. Berpenampilan Menarik
Seorang reporter harus berpenampilan menarik setiap saat meski dalam keadaaan apapun. Misal harus liputan tengah malam, dia tidak boleh terlihat ngantuk atau mata panda padahal itu jam tidur ya

2. Kerja Tanpa Kenal Waktu
Seorang reporter harus siap 24jam untuk meliput kegiatan apapun. Apalagi bekerja di bagian news daily, dia harus memberitahukan informasi terkini. Bayangin aja seorang cewek harus liputan saat demo besar-besaran di Jakarta, panas dan sangat rawan akan keselamatannya. Wah ngeri banget itu

3. Resiko Besar
Setiap pekerjaan itu pasti ber resiko, ya saya tau. Tapi resiko seorang reporter itu unik dan menantang banget, banyak resiko yang akan ditanggung jika gak sesuai. Beberapa resikonya : Jauh dari keluarga, bisa setiap saat disuruh liputan, liputan berhari-hari, liputan daerah bencana, libupan daerah konflik, dll.

Nah susah banget khan jadi seorang reporter itu. Saya sendiri belum tentu sanggup jadi reporter hahaha. Kali ini saya mengenal sosok seorang wanita yang penar jadi reporter. Namanya Mba Dewi Ratnasari seorang wanita tangguh yang senang dengan dunia broadcasting. Tahun 2011 Mba Dewi Ratnasari diterima kerja di salah satu stasiun TV di Indonesia, dia menceritakan kesulitannya saat harus meliput karena sebagai reporter News Daily. 

"Pengalaman tak terlupakan menjadi reporter berita adalah saat banjir Jakarta awal tahun 2013 saya terpaksa tidak pulang dan harus keliling daerah banjir di Jakarta selama tiga hari. Masuk ke daerah-daerah di Jakarta Barat yang sudah seperti kota mati, tidur di pinggir jalan atau dalam mobil, hingga pertama mengabarkan betapa parahnya kondisi korban banjir di Pluit dan Muara Karang jadi pengalaman yang berharga" Ini pengalaman Mba Dewi Ratnasari yang paling berkesan.

Setelah menikah Mba Dewi Ratnasari masih tetap bekerja. Tapi mulai tahun 2015 Mba Dewi Ratnasari resign dan menjadi ibu rumah tangga. Memiliki blog sudah lama dan kini semua cerita tenang Mba Dewi Ratnasari ditulis di rumah maya nya www.ratnadewi.me Istimewa banget perjuangan seorang Dewi Ratnasari untuk sebuah berita. Sukses terus mba dalam segala hal dan sukses bersama keluarga

sosok cantik Dewi Ratnasari

No comments:

Post a Comment