Kulinerwisata

Kuliner : Gudeg Wijilan


Berburu Gudeg di Kawasan Wijilan
28/09/2006 10:43

Berbicara tentang Jogja, tidak akan pernah lepas dari makanan manis berbahan dasar nangka muda ini. Bagi para pencinta gudeg, maka jalan Wijilan yang terletak di sebelah timur alun-alun utara pastilah akrab di telinga. Di sini berjejer sekitar 10 penjual gudeg kering dengan interior bersaing. Padahal dulu, sebelum menjadi sentra gudeg, hanya terdapat sekitar 5 penjual gudeg dengan interior sederhana.
Warung-warung gudeg yang bisa dibilang pelopor berjualan di daerah ini adalah gudeg Bu Slamet dan gudeg Yu Djum. Keduanya telah mulai membuka usaha gudeg sejak tahun 1946, hanya berjarak satu tahun dari proklamasi RI. Menurut ibu Suharto, putri ketiga pemilik warung makan gudeg Bu Slamet ini, pada umumnya usaha gudeg yang terdapat di kawasan Wijilan merupakan warisan turun temurun.
Bertahan dari tahun 1946 bukanlah hal yang mudah. Karenanya, tak heran bila saat ini warung-warung gudeg tersebut lebih terdengar dari warung gudeg lainnya. Beliau menyatakan bahwa sudah beberapa kali warung makannya dikunjungi oleh artis ibu kota, seperti Yana Julio dan tim Pemburu Hantu.
Menyimak Jalan Wijilan dewasa ini, suasana khas jogja tempo dulu masih lumayan terasa. Selain tetap tidak ada bangunan bertingkat, jalan utamanya pun belum mengalami pelebaran jalan. Namun, karena dijadikan sebagai salah satu kawasan kunjungan wisata, Wijilan sekarang nampak tersusun lebih rapi dan bersih demi kenyamanan para wisatawan. Yang juga berubah mungkin dari kuantitas penggunaan sepeda kayuh atau onthel sebagai sarana transportasi yang kini telah tergantikan dengan sepeda motor.
Memilih kawasan ini sebagai tempat untuk mengisi perut rasanya memang pilihan yang tepat. Selain berada di pusat kota Jogja, Jalan Wijilan juga tidak terlampau padat lalu lintasnya. Tidak banyak pengendara motor atau mobil yang memilih jalan ini sebagai jalur utama, mungkin karena jalan yang termasuk kecil. Karenanya para pengunjung bisa menikmati makanannya tanpa banyak menghirup polusi dari asap kendaraan bermotor. Bukan hanya untuk makan siang ataupun malam, para pengunjung juga bisa sarapan di kawasan ini. Warung-warung gudeg di Jalan Wijilan kebanyakan telah buuka mulai pukul enam pagi dan tutup pada pukul sembilan malam.
Menjelang musim liburan sekolah atau mendekati lebaran seperti saat ini Jalan Wijilan biasanya dipenuhi oleh pengunjung dari luar kota, baik untuk membeli oleh-oleh ataupun sekedar untuk santap siang. Berbeda dengan gudeg basah, gudeg kering mampu bertahan selama dua hari, oleh karena itu gudeg wijilan seringkali dijadikan alternatif bekal makan untuk berbagai perjalanan. Mengenai harga, gudeg Wijilan pun relatif terjangkau, tergantung wadah yang digunakan dan lauk pauk yang dikehendaki.

Untuk satu kardus kecil gudeg telor dapat diperoleh dengan harga Rp 5.000,- saja, sedangkan satu besek gudeg berkisar antara Rp 25.000,- hingga Rp 30.000,-, dan satu kendhil penuh gudeg dan lauk pauk, dapat diperoleh dengan harga mulai Rp 50.000,-.
Sebagai referensi, penulis menyarankan untuk memarkir mobil atau kendaraan pribadi lain di kawasan sekitar Malioboro, dan menggunakan transportasi daerah seperti becak atau andong untuk sampai di tujuan. Selain mengurangi polusi dan menghemat bensin, Anda pun tidak akan turut andil membuat jalan Wijilan yang sempit menjadi macet karena banyaknya pengunjung yang memarkir kendaraan pribadinya di sepanjang badan jalan. Keuntungan lain, Anda akan merasakan santainya Jogja yang tidak mungkin bisa didapatkan di tempat lain.

sumber : http://www.trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=1&news_id=789

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kuliner : Gudeg Wijilan"

Post a Comment